Sastra

Baru Saja Lahir, Menjelang Senja

Aku hanya ingin bercerita, coretan-coretan kecil yang barangkali memberi makna …
Sekilas Bicara Tentang Cinta …


Cinta dan seluruh kedaimaian di dalamnya. Bagaimana jika kamu rasakan cintamu bisu? Mencintai dalam diam. Mencintai dalam renungan malam bersama sujud-sujud dalam ibadahmu. Mencintai dalam diam, bersama rangkulan-rangkulan doa yang kau panjatkan agar dia terjaga hatinya dan juga senantiasa dilindungi oleh sang pemilik hidup. Hingga pada suatu saat yang tepat. Suatu saat ketika waktu telah menemui jalannya. Menemui sang pemiliknya. Kamu menemuinya dengan ucapan atas nama Tuhan.  
Adakah diantara kamu yang merasa keperkasaan cinta yang tidak terbatas? Dan bukankah waktu, sebagaimana cinta, tidak bersekat dan terbagi dalam ruang-ruang? Kamu tak perlu khawatir akan cintamu pergi dan mencari cinta yang lain. Cukup dengan selalu memperbaiki diri kamu, terus belajar, dan terus berusaha lagi dan lagi.
Kamu hanya butuh memberi spasi kepada hatimu, agar mampu menjalankan apa yang telah menjadi tugasnya. Hatimu hanya perlu bersabar dan berdoa. Bukan berharap kepada sesuatu yang bahkan tak akan mampu membalas harapmu itu.
Kadang kamu merasa dalam kedinginan malam, kamu kesepian dalam diam. Mencoba menutup mata tapi tak mampu. Kamu juga merindukan, namun kamu tak paham tentang apa yang kamu rindu dan dengan siapa kamu merasa rindu. Kamu bahkan sempat menitihkan air mata karena sedih. Namun kamu tak tahu pasti tentang alasan mengapa kamu bersedih.
Kamu hanya butuh berdoa. Ditenangkan hatinya, dijernihkan pikirannya. Dua titik kunci antara pikiran dan hati harus senantiasa sama kamu jaga keselarasannya. Dua titik kunci yang selalu menjadi pemegang penuh arah bentuk hati dan pikiranmu kedepannya. Tentang cinta, yang kadang membuatmu lupa bahwa banyak hal lain yang bisa  kamu lakukan selain berkeluh kesah, gelisah dan sedih tanpa arah.
Kesendirian? Tuhan tak akan pernah membiarkanmu sendiri. Jikapun kamu tak memiliki suatu apapun untuk dilakukan dan difikirkan sesungguhnya kamu memiliki banyak teman yang tersembunyi, dan kamu tak sadar milikki itu. Kamu diam-diam menangis meratapi sepi, namun sesungguhnya kamu memiliki banyak hal untuk membuatmu merasa ramai dan tak sendiri lagi.
Kamu hanya butuh teman dalam bayanganmu saat menatap masa depan. Kamu hanya butuh bayangan yang selalu mengikutimu dari belakang. Bayangan yang akan selalu membuatmu merasa hidup. Bayangan yang selalu membuatmu merasa ada. Dengarlah, yang meratapi karena sepi sesungguhnya orang-orang yang tidak bersyukur. Meratapi karena takut sendiri sesungguhnya orang-orang yang tak tahu cara berdoa.
Sesungguhnya cinta tahu dimana dia akan tumbuh pada hati-hati yang sabar dan terus memperbaiki dirinya jauh lebih baik lagi dari sebelumnya. Cinta telah menemui jalannya sendiri ketika kamu mampu bersabar menanti kedatangannya. Saat kamu sabar menanti harapan-harapan yang digantungkan yang Maha pemilik harap, Maha penampung doa, Maha segalanya. Cinta tak mudah datang lalu pergi begitu saja. Cinta juga tak mudah berganti lalu hilang tanpa jejak. Bagaimana dengan cintamu? Masihkah mampu untuk menggantung harap pada sesuatu yang belum tentu memberi harap itu? Ataukah memilih untuk sabar, berdoa dan terus memperbaiki diri? Cinta yang kamu kejar harus sesuai dengan usahamu memperbaiki diri.
Aku selalu bilang, cinta itu seperti lingkaran, tanpa titik awal pun tanpa titik akhir. Melingkar dan terus melingkar.
Menjelang Senja

Padang, 4 Mei 2014 

Salam,
Beeoni

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close