Sastra

Papa?

Tiga belas tahun silam.

Dia memakai kemeja berwarna biru dengan lengan pendek serta garis-garis berwarna cream tipis pada kerah kemejanya. Dia menatap aku dan mama dengan mantap dibalik kacamata minus tebalnya itu. Dia melihat kami dengan tatapan yang sungguh teduh. Dia pamitan pergi bekerja pada pukul 07.00 pagi, mengecup kening mama lalu mengelus lembut rambut ikalku. Aku selalu menunggunya pulang bekerja agar bisa menemaniku bermain kereta dan mobil-mobilan di balkon rumah. Aku menunggunya hingga larut malam. Aku selalu bersemangat bermain mobil-mobilan dan kereta di balkon rumah bersamanya.

Saat libur akhir pekan, aku selalu menanti janjinya yang akan menemaniku bermain sepak bola di halaman samping rumah. Dia selalu memberikan apa yang aku mau. Rumah istana yang dia rancang sendiri. Desain minimalis lantai dua. Pekerjaannya menjadi arsitektur tak membuatnya kesulitan dengan rancangan sedemikian rupa agar aku betah bermain dirumah. Karena aku tak punya teman bermain lain. Aku hanya punya teman bermain yaitu dia. Dia yang disela-sela kesibukannya menemaniku bermain. Bermain bola saat akhir pekan tiba, bermain kereta dan mobil-mobilan di tiap malam sepulangnya dari bekerja, dan banyak hal permainan anak laki-laki lain yang kami mainkan bersama. Aku sebagai anak perempuan berusia lima tahun, tak tertarik menyentuh permainan boneka atau semacamnya.

Aku tak suka pada boneka. Mama selalu membelikanku boneka, tapi aku tak pernah menyentuhnya. Mama tak bisa bermain bola, mobil-mobilan dan kereta. Mama hanya bisa memainkan boneka yang tak pernah kusentuh itu. Membosankan sekali menjadi boneka. Hanya berdiam tersenyum tipis digerakkan oleh manusia. Tangan dan organ tubuh lain di lepas pasang sekenanya.

***

Ketika pulang bekerja, dia kadang hanya menyapaku dengan sentuhan lembut dan mengacak-acak rambut ikalku. Kemudian dia langsung bertatap muka dengan komputer kerja tanpa mengganti baju kemejanya. Dasinya dibiarkan saja tetap menggantung di leher. Kemudian mama datang membawakan secangkir teh hangat tanpa gula kesukaannya. Mama tahu betul apa tugasnya sebagai seorang istri. Mama istri yang telaten. Dia selalu merindukan teh tanpa gula buatan mama setelah bekerja dan roti panggang rasa keju sebelum pergi bekerja.

Aku selalu mengganggunya bekerja di depan layar monitor komputer. Aku mengganggunya dengan mengambil kaca mata minus, lalu mebiarkannya menyipitkan mata hingga pandangan gelap. Dia tak pernah marah jika aku ganggu. Dia mengerti jika aku mengganggunya bekerja itu artinya aku mengajaknya bermain.

Aku bangga padanya merancang bangunan yang indah-indah itu. Sudut kota, kawasan elit, dan kantor-kantor pemerintahan juga di rancang sedemikian rupa olehnya. Dalam satu bulan dia acap kali pergi keluar kota dengan tuntutan kerjanya yang banyak dan deadline yang mungkin mencekiknya. Aku tetap tak peduli. Aku terus mendesak mama menelponnya walaupun sedang rapat. Aku merengek ingin bermain bola dengannya saat akhir pekan walaupun dia sedang keluar kota.
Namun ada yang berbeda ketika aku melihat dia dan mama. Mereka terlalu kaku, jarang sekali berbicara. Dia tak lagi mengecup kening mama ketika pamitan pergi bekerja. Dia hanya mengucap salam bahkan sesekali langsung pergi saja, tanpa salam.

Dia banyak berubah, tak lagi memperhatikan kami. Bahkan dia juga mulai lupa dengan aku. Dia tak  lagi mau menemaniku bermain mobil-mobilan di balkon rumah. Hingga aku tertidur menunggunya pulang bekerja, dia tak juga kunjung datang mengajakku bermain. Kami juga tak pernah lagi pergi berlibur bertiga. Dia terlalu sibuk.

Tak biasanya dia seperti ini, dia selalu ingat dengan aku dan mama. Sekarang dia memperlihatkan sisinya yang berbeda. Dia jarang bicara. Sepulang dari bekerja, dia langsung menatap layar monitor komputer. Dia marah ketika aku mengganggu kacamata minus tebalnya itu, dan tak ingin lagi mengajakku bermain.

Aku selalu merengek-rengek mengajaknya bermain, tapi tak ada tanggapan darinya. Dia hanya menatapku dengan tatapan marah sambil menunjuk-nunjuk layar monitor komputer. Pertanda dia ingin konsentrasi bekerja. Tak pernah sebelumnya dia begini. Dia tahu aku tak punya teman di sekitaran rumah kami. Dialah yang selalu menjadi teman bermainku satu-satunya. Aku menangis di balkon rumah, dia mendengar tangisanku, namun tak ada tanggapan apapun darinya.

Mama tak banyak menjawab pertanyaanku. Saat aku menyerbunya dengan pertannyaan- pertanyaan tentang dia, mama sesekali hanya tersenyum, sesekali menjawab dia lagi sibuk, sesekali lagi mama menjawab “Diamlah putri”. Mama mungkin lebih pusing dengan desakan-desakan dariku setiap hari. Aku selalu mendesak mama untuk menelpon dia. Tapi mama kali ini menolak, mama bilang “Jangan kita ganggu dia lagi putri”.

Aku anak perempuan usia lima tahun, hidup sebagai putri. Semua yang aku inginkan aku dapati dengan mudah. Rumah seperti istana kecil yang aku inginkan, khusus di rancang untukku. Permainan laki-laki yang aku sukai. Lemari mobil-mobilanku bahkan tak cukup lagi menampung mobil-mobilan selanjutnya, penuh. Lapangan sepak bola mini di samping rumah yang sekarang hanya aku bermain sendirian disana. Semuanya berubah. Hidupku seakan-akan tak lagi sebagai putri. Aku tak menginginkan semua ini terjadi. Aku ingin dia seperti dulu lagi.

***

Pagi ini, dia dengan tergesa-gesa berangkat bekerja. Dia tak lagi minum teh hangat tanpa gula buatan mama, dan tak lagi makan roti bakar rasa keju buatan mama. Dia langsung pergi. Tanpa pamit. Tanpa mengecup kening mama. Tanpa menyentuh lembut rambut ikalku. Dia pergi tanpa suara. Dia bahkan tak melirik aku dan mama. Dia merapikan dasi, memakai sepatu, dan mengambil tas kerjanya dengan terburu-buru. Lalu melaju dengan mobil Alphard hitam dengan kecepatan sedang.

Aku mengikutinya sampai depan pintu. Aku menatapnya hingga jauh. Hingga yang tersisa hanya bayangan mobilnya di jalanan sana. Aku naik ke atap rumah seperti biasa. Dalam kesedihan aku menunggunya di atap rumah. Atap  rumah dengan rancangan yang sempurna untuk tempat bermainku. Rancangan yang sempurna untuk tempat bermain putri usia lima tahun.

Mobil-mobilanku tak lagi aku hiraukan. Aku mengacuhkan mobil-mobilanku sejak dia tak lagi mengajakku bermain. Aku lebih banyak menunggunya di atap rumah. Menatap jalanan raya. Berharap mobil Alphard-nya berhenti lebih cepat. Pulang lebih cepat. Aku tak pernah pusing dengan kendaraan yang lewat tanpa henti. Aku menatap jalanan raya tanpa lelah. Aku yakin dia akan pulang lebih cepat kali ini.

Aku melihat mobil Arphard-nya berbalik arah. Sepertinya ada yang tertinggal dirumah. Dia turun dari mobil lalu bergegas masuk kerumah. Aku dengan segera berlari menghampirinya. Namun ada yang membuat pandanganku tertarik di dalam mobil Alphard itu. Ada seseorang disana. Aku melihat siluet bayangan wanita di dalam mobil itu. Aku mengetuk-ngetuk kaca mobil tanpa suara, karena tanganku yang kecil.

Ada seseorang yang membuka kaca jendela mobil, saat kaca mobil itu terbuka, aku terdiam melihat wajah yang seram, seorang wanita dengan pakaian minim, dengan dandanan yang tebal, wajah seperti patung, lebih menyeramkan dari mumi yang pernah aku tonton di TV. Aku tak mengerti mengapa wanita jenis ini bisa bersama dia. Teman wanitanya yang jauh berbeda dari mama. Mama tak pernah berdandan berlebihan, mama tak pernah memakai pakaian yang super minim seperti kekurangan bahan itu. Mama tak pernah memiliki wajah menyeramkan seperti wanita di dalam mobil itu. Mama tetap cantik walaupun tanpa hiasan make up.

Apa benar itu alasan mengapa dia jarang pulang ? Apa benar itu alasan mengapa dia tak pernah mengajakku bermain mobil-mobilan lagi ? Jika mama mengetahui ini, pasti hatinya begitu sakit dan terluka.  Aku sempat bertanya kepada mama, mengapa kebanyakan wanita yang kulihat memiliki wajah yang seram dan berdandan berlebihan. Mama menyebutnya silikon.

“Mereka memakai silikon putri, nanti kamu tahu sendiri kalo udah besar”. Mama mengatakan sesuatu yang disebut nanti, aku tak bisa menjawab apapun dari tanggapan mama dengan kata nanti. Ternyata wanita di dalam mobil Arphard itu menggunakan silikon. Sehingga wajahnya terlihat seram dan menakutkan. Tapi mungkin saja berbeda dengan pandangan dia. Dia rupanya tertarik dengan wanita silikon itu.

Bahkan saat aku berdiri di samping pintu mobilnya menatap wanita itu. Dia tak berbicara, dan tak melihatku yang terkaget-kaget dengan wanita silikon. Dia hanya menyuruhku masuk kedalam rumah. Dan mengatakan sesuatu yang menggantung.

“Putri kamu jangan tunggu papa lagi. Kamu bisa bermain mobil-mobilan sendiri. Papa pergi bekerja dulu dan mungkin dalam waktu yang lama. Kamu dan mama tak perlu menunggu ”.
Seketika ada yang runtuh dalam penglihatanku. Aku tak bisa mengatakan apapun dengan ucapan itu. Lidahku kelu. Aku tak lagi banyak bertanya-tanya dan mendesak-desaknya. Rupanya aku harus menjadi anak yang besar sebelum waktunya. Mama mendengar ucapan dia di balik jendela teras rumah kami. Mama melihat raut wajah wanita silikon yang senyum sinis kepada kami.

Mama menahan deburan air mata yang selama ini ia tahan. Tangannya menutup rapat mulut dengan mata yang sesekali menengadah memandang ke atas. Menahan tumpahan-tumpahan air di pelupuk mata, agar tak tampak olehku. Aku tak lagi menangis seperti biasa saat menunggunya kembali. Ada yang menggantung dalam perasaanku. Ada yang hilang semenjak dia direbut wanita silikon.

***

Tiga belas tahun kemudian.
Didelapan belas tahun usiaku aku masih menutup rapat-rapat kejadian masalalu. Kejadian dimana aku selalu menunggu seseorang yang datang agar menemaniku bermain. Bermain mobil-mobilan dan kereta api. Bermain bola di halaman samping rumah. Aku tak lagi mengingat dia yang lupa jalan pulang.

Dia yang lupa alamat rumah kami. Dia yang lupa nomor telepon rumah kami. Dia yang lupa berbalik arah. Dia yang telah lama lupa kepada aku dan mama. Aku tumbuh menjadi gadis biasa yang kuat dan lebih hati-hati memandang hidup. Aku dulu sempat mencaci boneka. Boneka yang selalu tersenyum kepada siapapun. Tapi kali ini, inginku menjadi boneka. Tersenyum walau dalam keadaan apapun, walau tangan dan organ tubuh lain dilepas pasang sekenanya.

Namun aku selalu menutup mata, menutup telinga, dan menutup mulut. Aku tak berani memandang kebelakang, kejadian yang menyakitkan itu. Aku tak berani mengulang untuk mendengar  kata-kata perpisahan yang menggantung itu. Aku hanya diam.
Dibalik lidahku yang kelu aku mencoba mengucapkan panggilan yang tak pernah kusebut tiga belas tahun terakhir ini.
Papa, semoga kau masih hidup.

Padang, Desember 2013
Terbit di Antalogi Rumah Ibu: RKB



Salam, 
Beeoni

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close