Sastra

UNTAIAN RINDU UNTUK MARTA

Marta kekasihku.
Bersama surat ini, aku sampaikan beribu-ribu kata kepadamu. Karena hanya satu harapanku, kau mendengar di sana walau tak ada suara, kau mendengar di sana walau kadang telingamu tak peka. Aku bertahan di sini tanpa sedikitpun ragu, Marta. Aku rindu hari-hari kebersamaan kita. Aku rindu matamu menyapaku dengan teduh yang tak terkira. Kita tak pernah melakukan dialog apapun selama ini. Kita tak pernah melempar suara-suara lewat lisan kita. Kita hanya hidup dengan dunia kita sendiri. Kau menyapaku dengan mata teduhmu itu. Dan aku dengan untaian kata lewat surat-surat ini, yang tak akan pernah bisa kau baca. Selayaknya kita memang ditakdirkan bersama, Marta. Aku menunggu waktu mana yang mampu membuatku bicara padamu. Waktu mana yang mampu menghadirkan suaraku. Lagi-lagi aku tak sadar diri. Karena suara tak akan bisa menjadi suara. Maafkan aku, Marta.

Marta cintaku.
Waktu tak kunjung mempertemukan kita. Aku bayangkan wajahmu dibalik jarak waktu. Tak pernah aku mengerti ribuan peluh yang terlewati karena aku memikirkanmu. Waktu terasa lama jika kita tak bertatap muka. Perasaan ini begitu menyakitkan, Marta. Namun, aku selalu menikmati pergantian detik demi detik itu. Waktu aku menunggu. Perasaan ini begitu menggebu-gebu merasuk kedalam otak dan pikiranku. Aku menikmati indahnya kesakitan dalam memeluk rindu. Aku genggam dengan erat kumpulan perasaan yang menjadikanku bertahan. Apakah kau mendengar senandung rindu ini, Marta.

Marta rinduku.
Dengarlah suara-suara pada pagi ini. Suara yang membangunkanmu. Suara-suara ayam jantan itu. Kamu selalu senang dengan suara ayam berkokok. Kamu selalu menunggu ayam berkokok. Aku tahu, tak akan ada yang lebih membahagiakanmu selain ayam berkokok. Marta, karena hanya ayam berkokok yang membuatmu bertemu dengan pagi. Karena hanya ayam berkokok yang membuatmu berdialog dengan embun. Aku yakin saat ayam berkokok, bingkai senyum itu tercipta dari bibir mungilmu. Aku sangat rindu melihat bingkai senyum itu. Sekian lama aku tak bertemu bingkai demi bingkai senyum indahmu. Aku memberi waktuku untukmu, Marta. Meski jarak dan waktu terlihat cemburu pada kita. Dini hari sahabat terhebatmu. Karena hanya dini hari yang membuatmu bertemu embun pagi. Aku sampaikan kepada embun pagi, bahwa tak akan ada yang mampu untuk mengerti dengan kekurangan kita selain kita sendiri.

Marta setiaku.
Aku ingin selama ayam jantan masih berkokok. Selama pagi masih setia menunggu. selama waktu masih cemburu, dan selama itu pun aku datang tanpa sedikitpun ragu. Aku ingin kamu tahu, Marta. Ribuan peluh yang terbuang saat aku menunggu, adalah sebingkai senyum yang tertunda. Seribu tahun kemudian. Bagimu waktu begitu lama. Ayam jantan yang berkokok setiap seribu tahun satu kali. Begitu lama usahamu dalam hal menunggu. Ataukah kau hanya tak sabar bertemu dengan pagi. Bahkan kau kadang tak rela pagimu pergi dengan cepat tanpa sepengetahuanmu. Aku yang berharap waktu itu cepat-cepat datang lebih dulu. Tapi kau membuatku mengerti waktu terasa begitu lama. Kau pun menjadikanku sadar. Waktu tak kunjung menyatukan kita, Marta. waktu begitu kejam pada kita. Mengapa begitu cepat perpisahan yang merenggutmu dari aku yang sendiri. Marta, ini senja yang hilang dikarenakan malam datang. Lalu aku tak ingin menjadi pagi yang hilang dikarenakan siang.

Marta  bacalah.
Meski kamu tak akan pernah membaca surat-surat untaian rindu ini, meski kamu tak akan pernah mendengar ayam berkokok yang menandai pagi, meski kamu tak lagi berdialog dengan embun, aku tetap di sini. Menulis surat-surat untaian rindu yang tak kunjung bisa aku ucapkan. Untaian kata rindu yang tersangkut di tenggorokan. Dan untaian kata rindu yang masih tersimpan. Aku kadang benci pada diriku sendiri. Mengapa tercipta tak mampu berkata. Tak mampu mengeluarkan suara. Aku benci pada diriku yang hanya mampu menuliskan surat-surat ini yang sedari dulu tak akan pernah mampu kau baca. Aku terlalu bodoh Marta, sekali lagi, maafkan aku.

Marta wanitaku.
Aku mencoba mengerti mengapa kita diciptakan begini. Mungkin ada pesan Tuhan yang belum aku temui. Aku mencoba kuat menghadapi ini. Telah lama sepucuk demi sepucuk surat aku tulis di tiap-tiap harinya untukmu. Sejak pertama kali kita bertemu surat-surat ini telah menjadi pengobat rindu. Aku menulis surat-surat ini sambil membayangkan wajahmu. Wajahmu yang tercantik, termanis, dan yang besinar. Marta wanitaku, tak masalah kau tak pernah melihatku. Kekasihku, tak masalah kau tak pernah melihat rupaku, dan tak masalah kita tak pernah menjalin suara-suara lewat lisan kita. Aku tahu apa yang ada didalam hatimu. Aku tak lagi benci pada dunia yang mengolok-olok kita. Aku tak lagi benci pada diriku yang gila. Aku tak lagi benci pada suaraku yang tak ada. Tapi Marta, mengapa percakapan kita terasa kaku. Padahal kini ribuan rindu menggebu-gebu. Penantian ini begitu lama, mengapa kau pergi lebih dulu. Aku, si pencari mati. Tapi mengapa aku tetap di sini. Bukankah malaikat pencabut nyawa telah menantiku di sudut pintu. Aku bingung, apa lagi yang aku cari. Jubah hitam yang belum kering  aku  jemur di bawah matahari, ataukah jubah putih yang belum sempat aku cuci petang tadi. Marta, jangan salahkan pada dunia yang tak ada cahaya. Marta, jangan salahkan pada mereka yang mengolok-olok kita. Tapi percayalah Marta, kita akan merasakan kebahagian yang tak terkira di dunia yang berbeda.

Marta yang hilang.
Aku tahu, kini sinar itu telah hadir pada duniamu yang berbeda. Marta, aku sangat bahagia jika kini matamu telah bercahaya. Aku tahu kau sangat merindukan embun pagi saat ini.
Seandainya saat itu kegelapan mampu aku tukar dengan suaraku, aku akan berjuang sekuat yang aku bisa demi embun pagi untukmu. Aku terlalu sakit melihat mu berangan-angan bertemu dengan embun pagi. Aku terlalu menderita melihat bingkai senyummu hilang saat embun pagi pergi. Aku tak bisa berbuat apapun, Marta. alangkah bodohnya diriku yang tak mampu berbuat apa-apa.

Marta yang tak kembali
Aku tulis surat terakhir ini untukmu. Menjadi pelengkap atas surat-surat yang lalu. Aku tulis dengan segenap cinta kasih beserta rindu. Hanya ini yang bisa aku persembahkan untukmu. Marta, hanya untaian rindu ini yang menjadi pengobat rinduku. Kau jauh di sana. Kau yang tak kembali. Kau yang dulu buta. Kini sinar itu semoga membantumu membaca untaian rinduku. Sampai jumpa lagi. Sampai bertemu di dunia yang baru.

Untuk Marta nan jauh di sana

Padang, Oktober 2013

Salam, 
Beeoni

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close