Sastra

Cinta Diam-diam

Amora Alice Whinskey. Sebuah nama memang sangat berarti untuk identitas diri. Sebuah nama berpengaruh dalam kelangsungan hidup yang lebih lanjut. Sebuah nama itulah yang membuat aku bertahan sampai saat ini. Mencari-cari jati diri seseorang. Identitas yang tak terungkap hingga detik ini. Entah mengapa ada hasrat tersendiri yang membuatku terus menelusuri jejak-jejak rahasiamu. Mencari-cari lagi tentang titik kehidupan yang tak tersentuh olehku. Akankah kau tahu? Aku telah sejauh ini mengagumimu. Yang ku tahu aku menyukai lelaki berpostur tubuh tinggi berisi berotot, berwajah bersih tanpa hiasan jerawat, dan beraroma wangi dan lembut.

Kini aku telusuri lagi, perasaanku melenceng jauh dari perkiraan. Kamu tidak berpostur tubuh tinggi dan berisi. Yang pasti tinggi badanmu lebih pendek dari tinggi badanku. Dan tentu tidak berotot. Begitupun wajahmu, tidak begitu bersih, terdapat hiasan-hiasan jerawat kecil yang menghiasi. Lalu tentang aroma tubuhmu, aku tentunya tak pernah mengetahui tentang aroma tubuhmu lebih detil.
Menyedihkan memang, seorang wanita hanya menjadi pemuja fisik. Tapi tunggu dulu. Apa yang menarik dari dirimu? kamu Tidak begitu tampan. Namun mengapa ada candu yang membuatku selalu ingin menatapmu.

Aku selalu gagal menyembunyikan ukiran senyum karenamu. ketika detik-detik itu  aku melihat kehadiranmu. Senyumku tentu cepat-cepat muncul, menampakkan diri. Andai saja aku dipertemukan dengan kamu lebih awal, mungkin perjuanganku tak akan seironi ini.

“Amora, namaku Amora. Nama kamu?”. Seandainya aku mempunyai keberanian itu untuk berkenalan. Saling menyebut nama masing-masing, lalu mengucapkan salam, atau hanya sekedar menyapamu dengan senyuman. Nyatanya, aku selalu gagal membangkitkan energi-energi keberanianku. Aku malu berhadapan dengan seseorang yang telah membuatku tertarik.

Rasa ingin tahu memuncak semakin tinggi. Tentang rasa, entah itu apa namanya. Yang pasti ketika suara mesin motor black tigermu terdengar oleh gendang telingaku, cepat-cepat langkah kakiku menuju kamar. Melalui kaca jendela kamarku. Aku melihatmu melewati rumahku. Senyumku pun merekah.

Aku hanya ingin mengetahui satu informasi saja tentangmu. Tapi ini hanya sekedar hipotesaku. Setiap kali aku melihatmu pergi tepat pukul 06.30 pagi. Kamu mengantar kakak perempuanmu itu. Kamu menggunakan seragam SMA N 2 Kuala Tungkal. Semoga saja hipotesaku kali ini benar. Namun aku bertanya lagi, ada hal menarik apa yang membuatku tertarik hingga sedemikian rupa seperti ini. Seberapa menarikkah kamu?

Lalu aku pun tertawa sendiri. Kadang aku berfikir, mungkin Rumah Sakit Jiwa akan kebanjiran pasien jika berpenyakit cinta seperti aku. Kemudian aku berfikir lagi, jikapun aku ditakdirkan menjadi orang-orang yang gila karena cinta. Pastikan bahagia menyertai aku. Karena dalam sehari saja aku bisa melihatmu 3 kali, senyum dan tawa akan bersamaku selama kurun waktu yang lebih dari 3 kali.

Lagi-lagi aku tak mampu menyembunyikan tiap senyum yang terlahir karenamu. Ada hasrat tersendiri saat aku menatap wajahmu, walau dari balik kaca jendela kamarku. Kecewa dan mengerti bahwa aku memang tak mungkin mampu berkenalan dengan mu. Mengetahui namamu saja mungkin aku tak mampu.

****

Untuk pertama kalinya mata kita saling bertemu. Untuk pertama kalinya pula aku mampu meluncurkan pandangan perdanaku padamu. Hai kamu pria tanpa nama, seandainya aku bisa mengetahui apa itu isi hatimu. Kagum atau menjijikankah saat kamu melihat aku ? aku tahu pertemuan dengan rentan waktu beberapa detik lebih lama ini hanya bisa terjadi di toko sesederhana ini.

Sedemikian rupa Tuhan merencanakan pertemuan singkat kita. Entah apa yang membuatku yakin pertanyaan yang ada di otakmu sama halnya dengan pertanyaan yang ada di otakku. “siapa dia” dua kata penuh makna, penuh arti, penuh teka-teki. Aku pun tak begitu optimis atas hipotesa-hipotesaku terhadapmu. Karena aku tak punya narasumber yang kuat untuk meyakini hipotesa-hipotesaku ini benar adanya. Ya, aku akan segera mencari informasi lebih tentangmu, tunggu saja. Sebentar lagi namamu akan aku ketahui.

****

Sore itu kamu jauh lebih menarik dari biasanya. Black tiger yang selalu setia menemani beserta T-shirt motif kotak-kotak yang dibarkan terbuka. Kaos hitam polos lapisan utama bajunya. Terlihat lebih rupawan dari sebelumnya. Ya, aku tahu. Dalam keadaan apapun kamu akan tetap terlihat tampan. Namun kali ini mataku begitu segar dengan style busanamu yang baru dan fresh.

Namun mengapa kali ini kamu melaju dengan kecepatan tak biasa? Mesin motor black tiger yang dikendarai melaju begitu cepat. Seakan tak membiarkanku menatap punggung pengendara lebih lama. Kali ini aku memang benar-benar sudah gila. Benar apa kata orang, bahwa jatuh cinta dan gila hampir sama. Virus-virus cinta cukup kuat membuat aku mabuk. Setiap sore pukul 17.00 aku menunggu kamu di balik jendela kamarku. Menunggu kamu melewati rumahku bersama kakak perempuanmu. Tapi sampai kapan aku harus menerka-nerka tentang namamu. Tomi? Apakah nama kamu Tomy. Randi? Apakah nama kamu Randi. Entahlah. Nama mana yang kamu miliki.
Ketika disekolah aku selalu ingat kamu. Kita yang berbeda sekolah dan berbeda angkatan tentunya akan sulit berinteraksi. Hanya dengan toko sederhana itu aku bisa menatapmu lebih lama. Tidak setiap hari aku berbelanja di toko itu. Hal yang bisa aku lakukan hanya menunggumu di balik jendela kamarku.

Sebentar lagi, aku tak bisa menatap kamu walau hanya sekedar lewat jendela kamarku. Sebentar lagi aku pergi dari sini. Aku akan melanjutkan studiku di luar kota, dan cukup jauh. Butuh lebih dari lima belas jam menempuh perjalanan kesana. Itu artinya aku tak bisa melihatmu lagi. Aku tak bisa menatap punggungmu yang perlahan hilang karena kecepatan motor black tigermu itu.
Bagaimana bisa aku mencintai seseorang yang aku sendiri tidak tahu namanya. Berakhir seperti apakah kisah cinta ini. Sebuah cerita cinta yang aneh. Harus aku letakkan pada halaman berapa tentang kehadiranmu. Di awal atau di akhir kah.

Aku membutuhkan waktu yang panjang untuk sedikit menyingkirkan rasa ingin tahuku tentangmu.
Enam bulan yang lalu, ketika itu. Dan sampai saat ini aku juga belum memberanikan diri untuk sekedar melempar senyum padamu. Aku telah melanjutkan studiku dengan perjalanan yang panjang. Disana aku tidak menemukan seseorang yang mampu mengalahkan karismatikmu. Aku tidak menutup mata disana. Aku juga tidak menutup hatiku. Sayang sekali tak ada yang bisa mengetuk pintu hatiku, walaupun mereka hanya sekedar menumpang lewat.

Kamu tidak hanya sekedar menumpang lewat rumahku. Kamu juga tidak hanya sekedar menumpng lewat di hatiku. Aku hanya ingin tahu seberapa lama kamu mampu bertahan di hatiku. Seberapa lama aku mampu menyimpan rasa ingin tahu dan penasaran ini.
Cinta diam-diam juga ternyata menyimpan luka.

Tak sengaja aku melihat kamu bersama perempuan yang kamu boncengi dengan mesra. Rambutnya panjang, memiliki kulit yang putih, tubuh yang langsing dan wajah yang manis. Tipikal perempuan idaman. Sungguh kamu memiliki selera yang tinggi. Ketika itu kita saling berpapasan dijalan, saling memandang walau hanya sebentar. Lalu kemudian kamu bercanda lagi dengan perempuanmu itu. Tertawa dengan riang. Menyakitkan rasanya, seseorng yang aku cinta ternyata telah memiliki kekasih hati.

Hal yang harus aku lakukan ketika itu hanya satu. Membuang jauh-jauh angan tentang mu. Aku harus melupakan semua harapan-harapan yang palsu dan semu itu. Mana mungkin sebuah interaksi terjadi diantara kita lebih dari sebuah tatapan mata saja. Semenjak itu, aku makin tidak berani menatapmu. Aku mencoba mengurangi intensitasku melihatmu di balik kaca jendela kamarku. Aku tidak lagi menunggumu. Aku harus perlahan membuang perasaan itu. Namun semakin aku mencoba melupakanmu, semakin sulit perasaan itu pergi.
Ini semua salahku.

Aku terlambat memperkenalkan diri. Ada yang lebih dulu masuk kedalam hati dan pikiranmu. Aku terlalu rapat menyimpan rasa itu. Perasaan yang diam-diam semakin menyiksaku.
Setelah enam bulan itu. Aku kembali kesini lagi. Menikmati liburan yang cukup panjang. Aku kembali melihatmu. Ada sedikit perasaan yang masih mengganjal. Aku melihat kamu sendirian melewati rumahku pada malam minggu. Terakhir aku melihatmu bersama perempuan idaman itu. Tak disangka, keesokan harinya di toko sederhana. Kamu mengajakku berkenalan. Heru namamu. Senang bisa berkenalan denganmu.

Karena memang sesungguhnya tak ada penantian yang sia-sia.
Cinta diam-diam ternyata berakhir indah. Aku megetahui namamu, kita saling menukar nomor telepon. Lalu kamu mengajakku pergi malam mingguan.
Aku benar-benar menuliskan semua hal tentangmu pada halaman terakhir buku catatanku. Agar tak ada lagi yang mengisi buku ini selain kamu.
Akhir cerita yang indah bukan ?

Kuala Tungkal, 14 januari 2014

Salam,
Beeoni

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close