Sastra

Kala Senja

Pasir-pasir halus masuk kedalam sepatu pansusku. Akibat aku terlalu kencang berlari di tengah bangunan yang sedang diperbaiki. Aku membersihkannya dengan cepat. Berhenti sejenak, menunduk sebentar dan menepuk-nepuk kakiku yang kumal. Mataku tak melulu tertuju pada kaki dan sepatu pansus yang tengah aku bersihkan. Aku melihat ke arah depan tepat sepuluh langkah kaki dihadapanku.

Rasanya mataku ingin kabur saja. Tak ingin melihat sosok dihadapanku itu lebih jelas. Namun,  tanganku spontan memperbaiki posisi kacamata minus dua ini. Aku bisa dengan jelas melihat sosok yang berada tepat sepuluh langkah kaki dihadapanku itu. Seperti biasa, kamu selalu memakai topi. Hari ini kamu memakai topi berwarna coklat tua dengan sedikit garis hitam tipis di ujungnya.
Kamu mengenakan kemeja berwarna biru bermotif kotak-kotak, menikmati lagu dibalik headset putih sambil menghisap rokok class mild. Masih seperti dulu. Aku terkejut ternyata kamu sedari tadi melihatku sendirian membersihkan pasir-pasir halus yang masuk kedalam sepatu pansusku. Aku berpura-pura tidak melihatmu, dengan cepat berdiri lalu pergi tanpa tegur sapa, tanpa pandangan secara intens.

Aku masih tidak bisa menerima sebuah kenangan yang pahit. Kenangan yang ingin aku kubur dalam-dalam. Peristiwa singkat, membuat lobang yang dalam pada hati yang telah lama luka oleh perkenalan. Aku bahkan tidak bisa terima dengan orang-orang yang cepat mengenalku, lalu dengan cepat pula berpamitan pergi tak ingin mengenalku lagi. Apakah sesingkat itu rentan pertemuan dan perpisahan?

Aku bermimpi tentang senja yang menemani kita kala itu. Senja berkata padaku tentang kamu. Senja berkata, aku telah menghabiskan waktu dengan seseorang yang tidak akan pernah kembali. Lalu aku menjawabnya, apakah aku harus menemani langkahmu  kemudian, dan kamu tetap saja sendirian?
Betapapun sendirinya aku yang sunyi ditemani senja, aku tetap saja tersenyum di balik luka. Melakukan banyak hal yang hanya ‘cuma-cuma’. Kegiatan sehari-hari tak kunjung membuatku lupa atas perkenalan yang menyakitkan itu. Peristiwa lima bulan yang lewat yang seakan masih terjadi hingga hari ini.

Betapa pengaruhnya, peristiwa dengan durasi tak mencapai satu jam penuh itu. Tentang sepasang bola mata yang terus memandangi wajah teduh tanpa ekspresi, wajahmu. Tentang sepasang bola mata yang bisu tak kunjung bicara, matamu. Kamu terus saja melangkah dengan pelan. Menghisap rokokmu, dan menghembusnya kemudian.

Harus dengan usaha apa aku menghindari senja? Sementara setiap aku pulang, langkah kecilku selalu disertai senja. Rasanya tak adil, jika selama delapan belas tahun perjalanan hidupku aku selalu saja sendirian. Tentang kenangan akibat perkenalan yang terus berujung pada sebuah perpisahan. Perjalanan yang singkat bersama senja, langit berwarna jingga, matahari keemas-emasan serta semilir angin sore yang sejuk tak tertahankan.

Semuanya akan tetap menjadi misteri antara aku dan pria bertopi. Aku takut tiap kali kita bertemu lalu aku tak tahu harus mengeluarkan ekspresi macam apa. Pasir-pasir halus yang masuk ke dalam sepatu pansusku menjadi alternatif untuk aku sedikit saja mencuri pandang sekilas melihatmu.
Mengapa rasa gengsi dan malu menjadi penghalang bagi perempuan untuk menyatakan perasaan? Hingga peristiwa itu menghilang dihembus angin sore, dan aku tak kunjung menyatakan. Adilkah ini untukku?Aku berjalan dengan gerak yang cepat. Mencoba meninggalkan belakang. Menghapus tiap-tiap siluet hitam antara kamu dan senja.

Aku masih saja tidak percaya jika kamu telah berjalan meninggalkanku tanpa berpamitan. Aku terus saja mengejar langkahmu yang melelahkan itu. berharap aku dapat menyusul lalu mengucapkan sepatah dua patah kata.

***

Tak banyak cara untuk menghindari tatapan matamu  yang menusuk itu. Membaca juga menjadi salah satu alternatifku untuk menghindari tatapan itu. Kala itu aku melihat kamu tengah berbincang-bincang dengan wanita paruh baya, penjual makanan di kedai kecil di gedung F kampus kita, gedung tempat kita kuliah bersama.

Entah percakapan macam apa yang tengah dibicarakan itu. Aku penasaran akan percakapan kalian, karena yang aku tahu, kamu jarang bicara dan sulit membangun percakapan ringan. Bagaimana bisa, wanita paruh baya saja mampu membuatmu bicara dengan santai dan nyaman. Sementara aku butuh ribuan peluh untuk memulainya.

Lalu tentang kamu, aku hapal benar tentang lagu yang tengah kamu dengarkan kala itu. Band favoritmu, Payung teduh dengan judul lagu yang sesuai keadaan hatimu –resah. Aku bahkan heran, tentang lagu yang selalu saja kamu dengarkan berulang-ulang. Kamu putar dengan volume yang keras. Terlihat benar bahwa kamu pecinta lagu sendu. Aku bahkan mencoba menyukai lagu yang selalu kamu dengarkan itu.

Aku mendengarkannya dikala aku beranjak tidur. Aku mendengarkannya dikala aku berada di dalam toilet. Aku mendengarkannya dikala aku menuju kampus, di dalam bus ataupun angkutan umum. Sungguh besar pengaruh hal-hal yang kamu suka itu. Selalu saja aku dihadirkan pada senja yang sama. Kala dua pasang bola mata beradu, menciptakan dialog-dialog dalam bisu.

Namun, hanya mataku yang bicara, melihat senja yang jingga. Melihat langit yang mulai menyembunyikan matahari dalam kesunyian. Tak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain menatapmu dan menghitung langkah kaki kita. Hatiku seakan lirih meronta. Memintamu untuk bicara. Aku ingat kala itu, aku menjadi senja yang sunyi di sudut matamu. Menjadi kelabu akibat langit yang tiba-tiba saja mendung.

Aku terus mencoba menjadi angin yang menyejukkanmu. Namun usahaku tak berarti apapun bagimu. Kamu tetap tak kunjung bicara. Hanya satu yang aku inginkan, berbicara dengan santai dan ringan bersama kamu saat senja, di bawah pohon willow yang daunnya gugur kemudian.

Bagaimanapun juga, aku tak pernah ingin masuk dalam dunia kenangan. Yang secara tidak langsung membuatku lari dari kenyataan. Ternyata kesakitan menjadi suatu peristiwa yang ingin aku lupakan. Bersamamu, seseorang yang selalu mengganggu laju kerja otakku. Kamu menjadikannya sempurna dalam simpul kenangan. Namun pada kenyataannya, aku bagaikan orang yang telah lama berenang dalam lautan kenangan. Mencoba bertahan pada kedalamannya tanpa satupun pelampung untuk menyeberang.

Kamu mengajarkanku bagaimana berjalan di atas kerikil-kerikil kesakitan. Tapi kamu lupa meninggalkan aku jejak-jejak kebahagiaan.

Seandainya percakapan terakhir kita seperti ini :“Apa yang tak pernah bisa kamu lupakan ?”
“Yang tak bisa aku lupakan…. Hmm, Ada satu hal. Satu hal yang tak pernah bisa aku lupakan. Kenangan…. Ya, kenangan. Kenangan indah bersamamu dikala senja.” (*)

Uniang Cafe, FIB, Unand 27 februari 2014
Padang Ekspress, 2014

Salam,
Beeoni

Show More

Related Articles

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close