Perjalanan

Perkara Waktu

Perihal waktu yang sering aku dustakan, perihal tenaga yang sering aku sia-siakan. Ya, aku selalu menunggu waktu senggang untuk mengerjakan sesuatu, padahal setiap waktuku adalah waktu senggang. Entah berapa banyak waktu yang telah aku buang. 

Lagi-lagi aku sebagai anak rantau tak boleh main-main soal waktu. Sebab tujuan merantau ini bukan perara main-main belaka. Bukan perkara sok berlaga, apalagi bukan perkara merajut asmara. Hanya satu perkara: Cita. Ya, sudahkah setiap harinya aku berkarya? begitu selalu pertanyaanku pada diriku ini. Jika belum, aku harus menghukum diriku sendiri. Dengan berbenah misalnya. Ya, sebab aku benci berbenah. Terkadang aku hanya berbenah seminggu sekali saja. Itupun jika rajin.

Aku benci mencuci baju, membereskan kamar, mencuci piring, merapikan rak buku, dan lain sebagainya. Aku benci kotor, namun aku benci berbenah. Lalu aku terapkan hukuman berbenah jika aku salah.

Soal Waktu dan Janji Kepada Diri Sendiri 

Bicara soal waktu memang tak akan ada rumus yang pasti menjelaskannya. Aku sebagai perantau yang haus akan kesuksesan sejujurnya adalah orang yang paling dusta dengan waktu. Segala cara telah aku terapkan. Biasalah, dimulai dari alarm berdetak bak bedug di ponselku. Hingga cara lain yang aku temukan dan masih diterapkan saat ini. Jam tangan. Jika orang-orang menggunakan jam tangan ketika hendak bepergian, aku menggunakan jam tangan setiap saat. Ya, setiap saat. Saat mandi, buang air, beres-beres, hingga tidur sekalipun. Efektif!

Bagaimana tidak, sering kali aku dusta dengan alarm di ponselku. Ku hidupkan ia setiap bertemu angka genap di tigapuluh. Abaikan. Abaikan. Begitu pikirku. Dengan jam tangan yang terus melekat hingga detik ini. Aku berhadapan dengan kata abaikan setiap detik. Hingga aku malu kepada diriku sendiri dan perlahan mulai taat pada waktu.

Aku bangun sesukaku ketika hari libur sabtu dan minggu. Namun, jika jam kerja aku harus melawan rasa kantuk yang tak biasa dengan sesekali keluh. Sebab aku benci bangun pagi. Jelas saja, sebab setiap malam aku selalu terjaga, menyalurkan inspirasi dalam kata: menulis. Aku baru bisa berpikir dan menulis ketika jarum jam menunjukkan kekosongan: 00.00. Ya, sebelumnya aku berleha-leha. Menonton tv, bernyanyi, membaca hingga kantuk menyerang, sesekali tidur barang sebentar, dan terbangun saat inspirasi berontak agar dituliskan.

Jika teman-teman pembaca mempunyai pengalaman yang sama, boleh tukar cerita di kolom komentar. Sudilah kiranya membagikan ceritaku jua.

Catatan: Jika ingin menerapkan hal yang sama, menggunakan jam setiap waktu, pastikan jam tanganmu tahan air dan berbahan karet. Selamat mencoba!

Salam,
Beeoni

Show More

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close