Perjalanan

Ramadan Pertama di Ibukota “Antara Haru dan Pilu”

Artikel pertama tentang rantau ini aku tulis tepat di hari pertama bulan Ramadan, Kamis, 17 Mei 2018. Sampai artikel ini selesai ditulis dan baru saja di terbitkan tepat hari ini: hari ke tiga bulan Ramadan 19 Mei 2018. Ketika aku meng-upload artikel ini, mungkin teman-teman pembaca di seluruh Indonesia telah menikmati menu berbuka puasa ataupun sedang menjalankan ibadah shalat tarawih. Baiklah, selamat menikmati ceritaku!

Ramadan dan Ibukota “Kesan Tak Terduga” 

Pertama kali menginjakkan kaki di ibukota tepatnya pada bulan Agustus 2017 dan diterima bekerja di salah satu perusahaan swasta tepat pada tanggal 5 September 2017. Tak terasa, ketika aku berangkat dari kampung halaman setelah lebaran, saat ini aku sudah bertemu bulan Ramadan lagi. Di tempat yang jauh berbeda, jauh dari keluarga, jauh dari teman cerita, tak ada seorang pun sebagai tempat sandaran, sedih.

Aku nekat menjajaki ibukota dengan tujuan sama, memperluas ilmu. Ketika aku merantau ke kota Padang untuk kuliah yang kebetuan saat itu aku juga diterima sebagai mahasiswa undangan juga dengan tujuan yang sama, memperluas ilmu.

Pertama kali ke ibukota, aku sama sekali belum melamar pekerjaan. Aku hanya berangkat saja, menumpang di kosan seorang kakak senior di kampus yang juga kebetulan satu kampung halaman denganku. Sungguh pengalaman yang terbilang nekat seumur hidupku.

Bagaimana tidak, aku belum pernah naik pesawat kala itu, belum pernah pula ke ibukota, belum tahu bagaimana masyarakat ibukota dan segala tindak tanduknya. Ah, yang penting usaha. Begitu pikirku. Dengan segala perjuangan yang ada, dan mengandalkan buku-bukuku yang lolos terbit semasa aku kuliah dulu, bekal kliping koran karyaku yang ah tak seberapa itu: Aku banyak menerima panggilan. Akhirnya aku bekerja dengan sesuai keinginan dan angan-anganku selama ini: content writer. Ah, aku bukan ingin menceritakan soal pekerjaan dan perjuanganku di artikel ini. Jika kalian ingin mendengar ceritaku lebih lanjut, sudilah menulisnya di kolom komentar.

Kuala Tungkal dan Ramadan yang Diimpi-impikan  

Oh betapa indahnya bulan Ramadan di kota kecilku ini. Bukan soal ibadah saja yang semakin khusuk karena banyaknya pengajian dan ladang amal. Melainkan ladang kreatifitas. Ya, setiap malam minggu di bulan suci Ramadan, akan ada arak-arakan sahur keliling setiap sudut kota. Bukan main, perayaan yang meriah nan megah dan arak-arakan yang rinci dipersiapkan masing-masing pemuda di setiap masjid. Biasanya yang mengikuti acara ini hanya masjid-masjid besar saja. Ya karena semua perlu biaya. Seragam pemuda pembawa arak, dekorasi arak, dan tak ketinggalan konsumsi.

Bagi kami anak perantau Tungkal, dimana pun berada tentu hal ini yang paling kami rindukan selain berbuka dan sahur bersama keluarga. Dentuman alunan musik bukan sekedar berdenum tak tentu irama. Latihan setiap malam agar intonasi dan nada lagu-lagu sahur syahdu. Aku hanya bisa melihat dan mendengar arakan sahur kota kecilku melalui media instagram teman-temanku yang sedang siaran langsung. Kalaupun aku tertidur, aku bisa melihat dan mendengarnya lagi esok harinya di media instagram @pesona_kualatungkal

Soal Jakarta

Coba bayangkan ada arak-arakan seperti ini di Jakarta? ya bisa-bisa macet lah! Jelas, karena kotaku yang damai asri dan memang tidak sebesar kota-kota lainnya, apalagi Jakarta, kegiatan seperti ini rutin setiap tahunnya. Sejak zaman aku kecil dulu, sejak zaman aku tak tahu apa itu kata rantau.

Namun sekarang, sudah hampir 5 tahun kebelakang aku tidak rutin menyaksikan teman-teman, adik-adik Tungkal beralaga di arak-arakan sahur. Jangan salah, kegiatan ini dilombakan dengan hadiah yang tak sedikit! juga ada piala langsung dari Pak Bupati kami. Jelas saja, teman-teman berlomba dan menampilkan yang terbaik membawa nama masjid dan kelompoknya.

Oiya, adikku juga sempat ikut di arak-arakan sahur ini kala itu, ya hanya bertahan satu minggu pertama, sekali tampil, maklum dia berat dan malas jalan kaki. Ya, keliling kota berjalan kaki itu perlu semangat dan tenaga ekstra. Ah, kupastikan aku harus menonton arak-arakan sahur di malam terakhir Ramadan nanti. Ya, aku selalu kebagian di malam terakhirnya saja. Sebab aku baru bisa pulang beberapa hari sebelum lebaran, ya begini nasib anak rantau.

Kabar Duka Indonesia 

Ya, sebagaimana yang kita tahu sebelum bulan Ramadan tiba, beberapa aksi teror memborbardir perasaan masyarakat Indonesia. Rasa takut berkecamuk dan rasa tak habis pikir juga tentunya. Oiya, perihal hal ini juga akan aku tulis di artikel berbeda ya teman pembaca. Komen di bawah ini bagi kamu yang tak sabar lagi membaca artikelku tentang aksi teror beberapa hari lalu. 

Salam,
Beeoni
Show More

Related Articles

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close