Sastra

Sebelum Pulang

Malam menandakan rebahnya raga,
siang menandakan mata terbuka.
Hal itu tak berarti bagi hari-hari yang terjadi belakangan ini.

Waktu tak lagi dapat menghitung
jumlah apa yang tertera pada jarum jam.

Aku, dengan penuh memaksimalkan rasa
menumpukkan jari jemari dengan seirama agar bekerja.

Bukankah pulang menjemputku?
akan detak jantung kota yang kian terasa di telinga.

Ah, inikah yang dinamakan sebuah kerinduan?
Sanak saudara, teman bermain semasa TeKa telah menentukan janji berbuka menjelang hari raya.

Oh sungguh, bandara terasa sedekat jarak jemari.
Sebentar lagi,
aku pulang.
aku pulang.
aku pulang.

Show More

Related Articles

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close